Knowledge

Art-11 Ketika BTM dipetakan melalui Balanced Score


Business Transformation Management
New Paradigm of Management

“Ketika BTM dipetakan melalui BALANCED SCORECARD STRATEGY MAP”


            Setelah kita membahas dalam artikel yang lalu tentang fokus kita pada Profit Zone maka pada kesempatan ini kita melanjutkan pemahaman kita bahwa Balanced Scorecard Strategy Map menjadi tool dalam memetakan secara lebih jelas dan terarah bagaimana Profit Zone itu mau dicapai. Oleh karena itu mari kita coba memahami konsep Balanced Scorecard Strategy Map yang benar. Konsep BSC lebih berbicara “How to execute strategy” karena justru kuncinya ada di kemampuan mengeksekusi strategi untuk menghasilkan sasaran yang diinginkan.


            Kami banyak menjumpai salah persepsi terhadap Balanced Scorecard ( BSC ) didunia usaha. Dari studi kami ternyata kebanyakan BSC dipersepsi sebagai Non Financial Measurements. Memang dari sejarah disusunnya BSC berangkat dari Non Financial Measurements, tetapi konsep ini telah berkembang menjadi Strategic Management Process. Dari pengalaman kami membantu berbagai industri seperti Manufaktur Farmasi, Distributor, Manufaktur Makanan, Konstruksi, Telekomunikasi, Medical Testing, Power Supply,  Jasa Medis dan Rumah Sakit serta Manufaktur & Distributor Kosmetik maka perlu diluruskan pemahaman dari konsep ini  dimana fokus dari tiap-tiap unit bisnis dalam perusahaan harus jelas dahulu.


DR. Kaplan & DR. Norton sebagai penemu dari konsep ini sangat jelas menekankan bahwa BSC bukan lagi sekedar Non-Financial Measurements, maka kita sebagai implementor harus dengan benar menempatkan BSC dalam tatanan Strategic Management Process kita. Banyak dijumpai pengusaha, eksekutif dan profesional yang tertarik terhadap konsep manajemen karena publikasi yang luar biasa dari penulisnya atau bahkan bukunya bermacam-macam dan ada dimana-mana, akan tetapi kurang paham dimana dan pada kondisi bisnis seperti apa konsep itu tepat sasaran dipakai. Demikian pula dengan BSC kita harus tahu benar dimana sebenarnya peranannya dalam manajemen perusahaan kita.


            BSC merupakan konsep dalam Strategic Management Process dimana fokusnya ada pada Pemetaan Strategi secara jelas dan terukur, jadi kuncinya ada dalam Peta Strategi ( Strategy Map ) baru diikuti dengan pengukurannya. Kalau peta yang dibuat tidak jelas atau salah atau menyimpang dari Profit Zone kita maka akan menjadi mubazir kita melakukan pengukuran. Untuk apa kita mengukur ditempat yang tidak tepat? Perlu anda ingat bahwa anda menjalankan bisnis bukan menjadi biro statistik karena makin banyak pengukuran strategis anda maka konsekwensinya anda harus mendata secara benar dan konsisten supaya dapat dievaluasi. Kecenderungan banyak perusahaan melakukan pengukuran startegis dalam jumlah yang banyak. Dalam BTM kami membagi menjadi 3 jenis pengukuran yaitu Strategic Measurements,  Operation Measurements dan Behavior Measurements, mengapa demikian ? Karena tidak semua fungsi dalam organisasi akan berkaitan dengan Strategi Bisnis kita sehingga mereka tetap perlu dievaluasi kinerjanya melalui Operation Measurements. Seperti dalam artikel kita terdahulu bahwa kunci dalam BTM salah satunya adalah Perilaku harus selaras dengan strategi bisnis kita. Sedangkan Perilaku akan menjadi landasan budaya organisasi yang penting. Oleh karena itu Behavior Measurements menjadi penting dalam BTM.


            BSC menjadi kunci dalam menfokuskan organisasi atau unit bisnis kita kepada strategi yang menjadi motor penggerak. Dalam BSC Strategy Map kita harus memetakan dalam 4 Perspektif yaitu Financial, Customer, Internal Business Process dan Learning & Growth Perspective. Mengapa demikian ? Karena dinyatakan bahwa dalam Strategi ada Hukum Sebab Akibat yang harus dipetakan secara jelas dalam rangka mencapai sasarannya. BSC juga mengubah paradigma lama kita bahwa strategi itu sangat rahasia tidak boleh ada yang tahu kecuali pemilik atau satu dua orang tertentu saja. Justru kegagalan yang dihadapi perusahaan karena strategi tidak diketahui jajaran manajemen madya sehingga mereka tidak tahu bahwa mereka harus kontribusi terhadap eksekusi strategi. Perubahan paradigma lain adalah kunci strategi bukan strateginya tapi kemampuan mengeksekusi itu yang sangat penting. Demikian juga strategi harus ujung-ujungnya berdampak kepada kinerja keuangan perusahaan atau bisnis meskipun ada yang dalam jangka pendek atau jangka panjang.


            Financial Perspective, sebagai perspektif pertama yang harus dipetakan karena ini berkaitan dengan benefit yang akan diterima oleh pemegang saham atau investor dalam menanamkan investasi di bisnis tersebut. Pola berpikirnya sederhana yaitu bagaimana kita mengupayakan pertumbuhan dan kesinambungan pendapatan serta bagaimana kita harus memperkecil biaya termasuk mendayagunakan assets lebih maksimal sehingga keuntungan makin baik. Kembali lagi yang mau dicapai adalah Keuntungan pada akhirnya. Perlu diketahui perspektif keuangan ini merupakan hasil dari dua persepktif selanjutnya yaitu Customer & Internal Business Process Perspective. Kinerja dari dua perspektif inilah yang akan menghasilkan kinerja keuangan.


            Customer Perspective, sebagai perspektif kedua yang memetakan posisi dan persepsi pelanggan terhadap bisnis kita. Kemampuan memetakan dalam perspektif ini menentukan dalam persaingan dimana kita akan bersaing dipasar berdasarkan 3 pilihan disiplin nilai ( Ingat Artikel ke 3 kami berjudul “Ketika Value Discipline menjadi Pilihan Lomba & Strategi Diferensiasi” ). Apakah kita akan bersaing dipasar dengan keunggulan Product Leadership dibanding pesaing? Apakah kita akan bersaing di pasar dengan Keunggulan Operation Excellence kita ? Atau apakah kita ingin memainkan peran yang kuat di mata pelanggan karena keunggulan Customer Intimacy kita ? Masing-masing pilihan disiplin nilai mempunyai konsekwensi dan kekhasan dalam mempersiapkan bisnis atau perusahaan secara unik. Kebanyakan perusahaan yang kami jumpai pengen hebat di ketiganya. Coba anda bayangkan perusahaan yang seperti itu kurang lebih dapat digambarkan sebagai perusahaan yang sangat hebat dalam menghasilkan produk yang unggul dengan harga paling murah dan layanan terbaik di pasar. Wah rasanya tidak dapat dijumpai di pasar. Ingat tiap perusahaan punya keterbatasan, anda bayangkan Walmart pemain retail dengan omset 1300 trilliun rupiah setahun  ( sama dengan 2 x hutang negara kita ) hanya memilih Operation Excellence sebagai disiplin nilainya. Nah bayangkan bisnis anda berapa persen dari Walmart ? Mengapa kita sering memaksakan untuk hebat disemua lini ? Justru kita tidak fokus dan tidak kelihatan kehebatan kita.


            Internal Business Process, perspektif ketiga yang menjadi kunci keberhasilan kita karena disinilah manajemen perusahaan punya kendali. Kemampuan kita menjalankan internal proses bisnis akan menghasilkan kinerja yang dilihat oleh pelanggan dan juga berdampak sampai ke perspektif finansial. Tentunya internal proses bisnis harus difokuskan untuk mendukung terbentuknya perspektif pelanggan yang telah dipilih dan dipetakan. Dengan demikian maka upaya yang kita lakukan melalui bisnis proses kita akan mempunyai kekhasan sesuai dengan disiplin nilai yang kita pilih. Kebanyakan perusahaan hanya sekedar mempunyai prosedur kerja tetapi mereka lupa bahwa proses bisnis secara lengkap dalam suatu perusahaan harus menjadi kendaraan untuk eksekusi strategi pilihannya. Bisnis Proses perusahaan harus mengintegrasikan seluruh aktivitas yang ada dan keterkaitan satu dengan yang lain. Bila proses bisnis yang ada sekarang tidak mendukung atau berbeda, maka kita punya kesempatan untuk melakukan business process improvement. Disini kunci penggerak adanya perbaikan proses bisnis karena harus mampu menjalankan pilihan strategi dan operasional guna membangun loyalitas pelanggan melalui disiplin nilai pilihan kita. Perbaikan Proses Kerja ini harus diikuti secara disiplin oleh seluruh karyawan dibawah kepemimpinan yang ada karena mengubah kebiasaan kerja terdahulu.


            Learning & Growth , perspektif keempat menjadi dasar dari kemampuan perusahaan atau bisnis dalam menjalankan proses bisnis secara konsisten. Kemampuan perusahaan memotivasi seluruh karyawan untuk menjalankan proses bisnis merupakan salah satu fokus dari perspektif keempat ini. Kita perlu membangun perspektif ini karena tidak semua perusahaan sudah mempunyai landasan yang sama. Kekhasan yang mau dijalankan dalam proses bisnis sangat membutuhkan kesiapan dari perspektif keempat ini. Kita harus menyadari bahwa membangun perspektif keempat ini tidak dapat dengan mudah atau cepat karena berkaitan dengan manusia baik kompetensi, kepemimpinan, tim kerja serta budaya yang harus dibangun. Perspektif ini merupakan fondasi perusahaan yang memungkinkan proses bisns berjalan dengan baik dan konsisten.


            Keempat Perspektif setelah dipetakan dengan tajam maka perlu di lakukan pengukuran dan mencanangkan target untuk nantinya dapat dilihat hasilnya. Pengukuran dan Target tentunya mempertimbangkan yang kritikal saja sehingga kita kerepotan dalam melakukan pendataan.Tentunya Peta Startegi dan Pengukuran serta Target harus disepakati oleh semua fungsi terkait termasuk direksi dan pemilik. Pemantauan dalam eksekusi dari Peta Strategi membutuhkan ketekunan dan konsistensi serta evaluasi secara periodik. Biasanya kita tidak gigih dan ulet dalam supervisi eksekusi serta evaluasi prosess serta hasilnya. Disini kita harus mempunyai komitmen bersama termasuk jajaran direksi. Seringkali pemilik dan manajemen maunya mendapatkan hasil dengan cepat. Mereka pikir seperti membuat mie instant atau teh celup, realitanya butuh minimum 1-3 periode/tahun untuk mematangkan dan melakukan fine tuning dalam pencapaian targetnya. Mengapa demikian ? Karena pada periode pertama biasanya perusahaan atau bisnis sedang menata lebih dahulu Learning & Growth Perspective-nya, disini justru sering pemimpin belum bisa langsung melihat hasil karena baru fondasi yang dibangun. Jangan sampai kita menjadi patah semangat karena hasil akhir termasuk finansial belum langsung terlihat tetapi inilah tahapan yang pasti harus dilalui dalam Balanced Scorecard Strategy Map Execution.


            Sebagai penutup dalam artikel ini, sekarang terserah anda mau membangun dari fondasinya dahulu baru  bangunannya ? Atau langsung bangunannya tanpa punya dasar yang kokoh?  Ingat apa yang ditulis dalam kitab suci, orang bijak membangun rumah di atas batu karang yang kokoh sedangkan orang bodoh membangun di atas pasir yang mudah berubah. Kita bebas memilih tetapi kita tidak bebas terhadap konsekwensi yang akan dihadapi.

 



Fery Hartono
Direktur Business Excellence Consulting
Business Transformation Management
Telp. : 021-5695 1200 (Hunting)
www.business-excellence.co.id

Free Counters
copyright © 2012 Business Excellence Service
Powered by CKM